Skizofrenia, merupakan suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab dan perjalanan penyakit yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, dan sosial budaya (Rusdi Muslim : 2000).
Skizofrenia, merupakan suatu gangguan psikotik yang kronik, sering mereda, namun hilang timbul dengan manifestasi klinis yang amat luas variasinya (Kaplan : 2000).
Skizofrenia, adalah suatu gambaran jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses piker, perasaan dan perbuatan (Eugen Bleuler, Maramis : 1998).
Skizofrenia, adalah seseorang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakan kepribadian (Hawari : 2003)
Skizofrenia, berasal dari dua kata yaitu “Skizo” yang artinya retak atau pecah (split), dan “Frenia” yang artinya jiwa. Skizofrenia adalah suatu gangguan psikosis fungsional berupa gangguan mental berulang yang ditandai dengan gejala-gejala pisikotik yang khas dan oleh kemunduran fungsi sosial, fungsi kerja, dan perawatan diri. Skizofrenia, adalah gangguan kejiwaan dengan munculnya delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsangan panca indra).
Skizofrenia Tipe I ditandai dengan menonjolnya gejala-gejala positif seperti halusinasi, delusi dan asosiasi longgar. Skizofrenia Tipe II ditemukan gejala-gejala negative seperti penarikan diri, apati, dan perawatan diri yang buruk.
Skizofrenia terjadi dengan frekuensi yang sangat mirip di seluruh dunia, skizofrenia terjadi pada pria dan wanita dengan frekuensi yang sama. Gejala awal biasanya terjadi pada masa remaja atau awal dua puluhan, sepuluh persen penderita skizofrenia meninggal karena bunuh diri.
Faktor resiko penyakit ini termasuk : riwayat skizofrenia dalam keluarga. Perilaku premorid yang ditandai dengan kecurigaan, eksentrik, penarikan diri, dan impulsivitas. Stress lingkungan. Kelahiran pada musim dingin (faktor ini hanya memiliki nilai prediktif yang sangat kecil). Status sosial ekonomi yang rendah sekurang-kurangnya sebagian adalah karena dideritanya gangguan ini.
